PDSD-SEAMEO BIOTROP

PDSD-SEAMEO BIOTROP terdiri dari 2 divisi, yaitu  Divisi Pengembangan Produk dan Services Laboratory. Divisi pengembangan produk bertugas untuk mengembangan produk-produk biologi yang bermanfaat dan dibutuhkan  oleh masyarakat. Sedangkan Services Laboratory bertugas untuk menyediakan layanan jasa pengujian.

Analisa Air dan Udara

Laboratorium Analisa Air dan Udara menyediakan layanan untuk menganalisa kualitas air dan udara dan juga memberikan layanan konsultasi untuk penilaian dan pengukuran keadaan lingkungan di lapangan.

Analisa Tanah dan Tanaman

Laboratorium Analisa Tanah dan Tanaman memberikan layanan analisa unsur-unsur hara tanah dan tanaman.  Selain itu juga memberikan layanan analisa fisika tanah.

Analisa Pangan dan Pakan

Laboratorium Analisa Pangan dan Pakan memberikan layanan analisa produk-produk pangan seperti vitamin dan mineral.  Selain itu juga memberikan Program Pelatihan HACCP bekerjasama dengan instansi/lembaga terkait.

Kultur Jaringan

Laboratorium Kultur Jaringan menghasilkan plantlets dan bibit berbagai jenis tanaman.  Laboratorium ini juga memberikan konsultasi teknis kepada siapa saja yang tertarik dengan pengusahaan tanaman.

Rumput Laut

Potensi Rumput Laut Kotoni

Rumput Laut Kotoni (Kappaphycus alvarezii Doty) adalah salah satu  komoditas unggulan di bidang perikanan dan kelautan Indonesia karena  jenis Rumput laut ini menghasilkan karaginan (carragenan) yang benilai ekonomis tinggi. Rumput laut penghasil karaginan disebut rumput laut jenis karaginofit, yaitu meliputi Kappaphycus sp, Eucheuma sp, Chondrus sp, Hypnea sp dan Gigartina sp. Dalam dunia industri dan perdagangan, karaginan memberikan banyak manfaat antara lain dalam industri farmasi, makanan, dan kosmetik sebagai stabilator (stabilizer), bahan pengental (thickener), pembentuk gel (gelling agent), dan pengemulsi.

Karaginan, salah satu bahan kebutuhan industri yang telah diperdagangkan di pasar internasional. Rumput laut K. alvarezii menghasilkan Kappa-carragenan dimana sebagai gelling agent lebih kuat (tebal) sehingga lebih mahal dan diunggulkan dibandingkan Iota-carragenan yang dihasilkan dari Eucheuma sp. Hal ini menjadikan rumput laut Kotoni menjadi komoditas andalan penghasil devisa negara Indonesia. Sebagian besar rumput laut Kotoni Indonesia diekspor ke Cina (67,7%), selain itu juga diekspor ke Vietnam (8,9%), Filipina (6,5%), Korea (5,1%) dan negara-negara di benua Amerika dan Eropa (FAO 2013).

Produksi rumput laut di Indonesia dari tahun ketahun semakin meningkat. Produksi pada tahun 2010 adalah  3.915.017 ton berat basah, sedangkan pada tahun 2014 terjadi kenaikan 257% yaitu mencapai 10.076.992 ton berat basah (KKP PDSI 2015). Berdasarkan data yang dikemukakan oleh FAO (2013), Indonesia adalah produsen rumput laut penghasil karaginan terbesar di dunia. Sebanyak 60,5% rumput laut karaginofit di dunia dihasilkan dari Indonesia,  31,9% berasal dari Filipina dan sisanya 7,1% berasal dari Malaysia, Tanzania, dan Cina (FAO 2013). Jenis rumput laut karaginofit yang paling banyak dikembangkan di Indonesia adalah K. alvarezii (Kotoni), selain itu juga K. striatum (Sacol), dan Euceuma denticulatum (spinosum). Walaupun Indonesia sudah menjadi produsen rumput laut karaginofit terbesar di dunia, pemerintah Indonesia masih terus mengupayakan peningkatan produksi rumput laut Kotoni ini.

Permasalahan dalam pembibitan rumput laut Kotoni

Peningkatan produksi rumput laut Kotoni memerlukan ketersediaan bibit secara berkesinambungan. Pada saat ini pengadaan bibit rumput laut Kotoni masih mengalami banyak kendala, diantaranya adalah iklim di laut yang tidak bisa dikendalikan. Pada waktu/musim tertentu, kondisi  perairan tidak cocok untuk pertumbuhan rumput laut sehingga semuanya mati atau tumbuh tidak optimal, sehingga pada musim tanam berikutnya ketersediaan bibit sangat sedikit atau bahkan tidak ada.  Hal ini menyebabkan penyediaan bibit secara berkesinambungan untuk peningkatan luas areal budidaya belum dapat terpenuhi.

Umumnya pembudidaya rumput laut Kotoni di Indonesia menggunakan sebagian dari hasil panen rumput laut untuk dijadikan bibit kembali dengan cara perbanyakan vegetatif melalui stek. Perbanyakan vegetatif secara berulang terus menerus menyebabkan bibit yang dihasilkan memiliki jaringan yang  sudah tua sehingga kecepatan tumbuhnya menurun dan lebih rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu perlu dilakukan kembali regenerasi melalui perbanyakan generatif untuk mendapatkan bibit yang muda dan cepat tumbuh. Akan tetapi perbanyakan rumput laut Kotoni melalui spora sangat sulit karena spora rumput laut ini sukar diperoleh. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan dalam meningkatkan penyediaan bibit rumput laut Kotoni baik secara kuantitas maupun kualitas adalah  dilakukan perbanyakan bibit rumput laut melalui teknik kultur jaringan.

Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya,  tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar. Selain itu, kesehatan dan mutu bibit yang dihasilkan lebih terjamin. Pada rumput laut, produksi bibit di laboratorium kultur jaringan bisa dilakukan sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim/iklim diperairan pantai yang tidak bisa dikendalikan. Oleh karena itu dengan teknik kultur jaringan, bibit rumput laut diharapkan dapat tersedia secara berkesinambungan sepanjang tahun untuk pembudidaya.

Kultur Jaringan rumput laut Kotoni di SEAMEO BIOTROP

Penelitian kultur jaringan pada rumput laut Kotoni dengan menggunakan teknik embriogenesis somatik telah dilakukan di SEAMEO BIOTROP pada tahun 2010 hingga 2011 (Sulistiani dan Yani 2012). Teknik embriogenesis somatik pada rumput laut kotoni sangat potensial digunakan untuk perbanyakan bibit dalam skala banyak, dimana pembentukkan satu embrio akan terjadi dari satu sel kalus, sedang pada kalus berukuran diameter 0.5 cm saja bisa terdiri dari ribuan sel. Selain itu, bibit kultur jaringan yang dikembangkan dari embrio somatik, diharapkan kualitasnya sama dengan perbanyakan alami rumput laut tersebut secara generatif atau melalui carpospore. Bibit yang berasal dari embriogenesis somatik memiliki jaringan yang sangat muda seperti bibit yang berasal dari spora, sehingga pertumbuhannya lebih cepat dan lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan bibit konvensional rumput laut yang berasal dari perbanyakan vegetatif secara terus menerus.

Tahapan embriogenesis somatik rumput laut Kotoni yang telah dilakukan di SEAMEO BIOTROP adalah (Sulistiani dan Yani 2014): (1) Pembuatan kultur aseptik, meliputi kegiatan aklimatisasi indukan rumput laut di rumah kaca dan di laboratorium, dan sterilisasi eksplan; (2) Induksi kalus, meliputi kegiatan menginduksi tumbuhnya kalus dari eksplan talus dengan menggunakan zat pengatur tumbuh; (3) Regenerasi kalus menjadi plantlet, meliputi kegiatan meregenerasikan kalus embriogenik menjadi mikropropagul, dan menumbuhkan mikropropagul menjadi plantlet yang siap diaklimatisasi.

Rumput Laut Kotoni (Kappaphycus alvarezii Doty) adalah salah satu  komoditas unggulan di bidang perikanan dan kelautan Indonesia karena  jenis Rumput laut ini menghasilkan karaginan (carragenan) yang benilai ekonomis tinggi. Rumput laut penghasil karaginan disebut rumput laut jenis karaginofit, yaitu meliputi Kappaphycus sp, Eucheuma sp, Chondrus sp, Hypnea sp dan Gigartina sp. Dalam dunia industri dan perdagangan, karaginan memberikan banyak manfaat antara lain dalam industri farmasi, makanan, dan kosmetik sebagai stabilator (stabilizer), bahan pengental (thickener), pembentuk gel (gelling agent), dan pengemulsi.

Potensi Rumput Laut Kotoni  	Rumput Laut Kotoni (Kappaphycus alvarezii Doty) adalah salah satu  komoditas unggulan di bidang perikanan dan kelautan Indonesia karena  jenis Rumput laut ini menghasilkan karaginan (carragenan) yang benilai ekonomis tinggi. Rumput laut penghasil karaginan disebut rumput laut jenis karaginofit, yaitu meliputi Kappaphycus sp, Eucheuma sp, Chondrus sp, Hypnea sp dan Gigartina sp. Dalam dunia industri dan perdagangan, karaginan memberikan banyak manfaat antara lain dalam industri farmasi, makanan, dan kosmetik sebagai stabilator (stabilizer), bahan pengental (thickener), pembentuk gel (gelling agent), dan pengemulsi.  	Karaginan, salah satu bahan kebutuhan industri yang telah diperdagangkan di pasar internasional. Rumput laut K. alvarezii menghasilkan Kappa-carragenan dimana sebagai gelling agent lebih kuat (tebal) sehingga lebih mahal dan diunggulkan dibandingkan Iota-carragenan yang dihasilkan dari Eucheuma sp. Hal ini menjadikan rumput laut Kotoni menjadi komoditas andalan penghasil devisa negara Indonesia. Sebagian besar rumput laut Kotoni Indonesia diekspor ke Cina (67,7%), selain itu juga diekspor ke Vietnam (8,9%), Filipina (6,5%), Korea (5,1%) dan negara-negara di benua Amerika dan Eropa (FAO 2013).  	Produksi rumput laut di Indonesia dari tahun ketahun semakin meningkat. Produksi pada tahun 2010 adalah  3.915.017 ton berat basah, sedangkan pada tahun 2014 terjadi kenaikan 257% yaitu mencapai 10.076.992 ton berat basah (KKP PDSI 2015). Berdasarkan data yang dikemukakan oleh FAO (2013), Indonesia adalah produsen rumput laut penghasil karaginan terbesar di dunia. Sebanyak 60,5% rumput laut karaginofit di dunia dihasilkan dari Indonesia,  31,9% berasal dari Filipina dan sisanya 7,1% berasal dari Malaysia, Tanzania, dan Cina (FAO 2013). Jenis rumput laut karaginofit yang paling banyak dikembangkan di Indonesia adalah K. alvarezii (Kotoni), selain itu juga K. striatum (Sacol), dan Euceuma denticulatum (spinosum). Walaupun Indonesia sudah menjadi produsen rumput laut karaginofit terbesar di dunia, pemerintah Indonesia masih terus mengupayakan peningkatan produksi rumput laut Kotoni ini.  Permasalahan dalam pembibitan rumput laut Kotoni  	Peningkatan produksi rumput laut Kotoni memerlukan ketersediaan bibit secara berkesinambungan. Pada saat ini pengadaan bibit rumput laut Kotoni masih mengalami banyak kendala, diantaranya adalah iklim di laut yang tidak bisa dikendalikan. Pada waktu/musim tertentu, kondisi  perairan tidak cocok untuk pertumbuhan rumput laut sehingga semuanya mati atau tumbuh tidak optimal, sehingga pada musim tanam berikutnya ketersediaan bibit sangat sedikit atau bahkan tidak ada.  Hal ini menyebabkan penyediaan bibit secara berkesinambungan untuk peningkatan luas areal budidaya belum dapat terpenuhi.  	Umumnya pembudidaya rumput laut Kotoni di Indonesia menggunakan sebagian dari hasil panen rumput laut untuk dijadikan bibit kembali dengan cara perbanyakan vegetatif melalui stek. Perbanyakan vegetatif secara berulang terus menerus menyebabkan bibit yang dihasilkan memiliki jaringan yang  sudah tua sehingga kecepatan tumbuhnya menurun dan lebih rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu perlu dilakukan kembali regenerasi melalui perbanyakan generatif untuk mendapatkan bibit yang muda dan cepat tumbuh. Akan tetapi perbanyakan rumput laut Kotoni melalui spora sangat sulit karena spora rumput laut ini sukar diperoleh. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan dalam meningkatkan penyediaan bibit rumput laut Kotoni baik secara kuantitas maupun kualitas adalah  dilakukan perbanyakan bibit rumput laut melalui teknik kultur jaringan.  	Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya,  tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar. Selain itu, kesehatan dan mutu bibit yang dihasilkan lebih terjamin. Pada rumput laut, produksi bibit di laboratorium kultur jaringan bisa dilakukan sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim/iklim diperairan pantai yang tidak bisa dikendalikan. Oleh karena itu dengan teknik kultur jaringan, bibit rumput laut diharapkan dapat tersedia secara berkesinambungan sepanjang tahun untuk pembudidaya.  Kultur Jaringan rumput laut Kotoni di SEAMEO BIOTROP  	Penelitian kultur jaringan pada rumput laut Kotoni dengan menggunakan teknik embriogenesis somatik telah dilakukan di SEAMEO BIOTROP pada tahun 2010 hingga 2011 (Sulistiani dan Yani 2012). Teknik embriogenesis somatik pada rumput laut kotoni sangat potensial digunakan untuk perbanyakan bibit dalam skala banyak, dimana pembentukkan satu embrio akan terjadi dari satu sel kalus, sedang pada kalus berukuran diameter 0.5 cm saja bisa terdiri dari ribuan sel. Selain itu, bibit kultur jaringan yang dikembangkan dari embrio somatik, diharapkan kualitasnya sama dengan perbanyakan alami rumput laut tersebut secara generatif atau melalui carpospore. Bibit yang berasal dari embriogenesis somatik memiliki jaringan yang sangat muda seperti bibit yang berasal dari spora, sehingga pertumbuhannya lebih cepat dan lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan bibit konvensional rumput laut yang berasal dari perbanyakan vegetatif secara terus menerus.  	Tahapan embriogenesis somatik rumput laut Kotoni yang telah dilakukan di SEAMEO BIOTROP adalah (Sulistiani dan Yani 2014): (1) Pembuatan kultur aseptik, meliputi kegiatan aklimatisasi indukan rumput laut di rumah kaca dan di laboratorium, dan sterilisasi eksplan; (2) Induksi kalus, meliputi kegiatan menginduksi tumbuhnya kalus dari eksplan talus dengan menggunakan zat pengatur tumbuh; (3) Regenerasi kalus menjadi plantlet, meliputi kegiatan meregenerasikan kalus embriogenik menjadi mikropropagul, dan menumbuhkan mikropropagul menjadi plantlet yang siap diaklimatisasi.

Pada tahun 2012, SEAMEO BIOTROP bekerjasama dengan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung, Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok untuk uji coba penanaman rumput laut kultur jaringan di beberapa perairan pantai di Indonesia. Pertumbuhan rumput laut kotoni yang berasal dari bibit kultur jaringan dengan teknik embriogenesis somatik menunjukkan laju pertumbuhan harian yang lebih tinggi (8.5 – 9,5%) dibandingkan pertumbuhan rumput laut yang berasal dari bibit konvensional atau perbanyakan vegetatif melalui stek (3.5-6.0%) (Sulistiani dan Yani 2014). Selain itu, kandungan karagenan dari rumput laut Kotoni kultur jaringan lebih tinggi (40-44%) dibandingkan rumput laut konvensional (32-34%) (Sulistiani dan Yani 2014). Sejak tahun 2013 hingga saat ini, SEAMEO BIOTROP bekerjasama dengan Direktorat jenderal Perikanan Budidaya untuk produksi dan penyebaran bibit rumput laut Kotoni kultur jaringan agar dapat dimanfaatkan oleh pembudidaya rumput laut ini di seluruh Indonesia.

Potensi Rumput Laut Kotoni  	Rumput Laut Kotoni (Kappaphycus alvarezii Doty) adalah salah satu  komoditas unggulan di bidang perikanan dan kelautan Indonesia karena  jenis Rumput laut ini menghasilkan karaginan (carragenan) yang benilai ekonomis tinggi. Rumput laut penghasil karaginan disebut rumput laut jenis karaginofit, yaitu meliputi Kappaphycus sp, Eucheuma sp, Chondrus sp, Hypnea sp dan Gigartina sp. Dalam dunia industri dan perdagangan, karaginan memberikan banyak manfaat antara lain dalam industri farmasi, makanan, dan kosmetik sebagai stabilator (stabilizer), bahan pengental (thickener), pembentuk gel (gelling agent), dan pengemulsi.  	Karaginan, salah satu bahan kebutuhan industri yang telah diperdagangkan di pasar internasional. Rumput laut K. alvarezii menghasilkan Kappa-carragenan dimana sebagai gelling agent lebih kuat (tebal) sehingga lebih mahal dan diunggulkan dibandingkan Iota-carragenan yang dihasilkan dari Eucheuma sp. Hal ini menjadikan rumput laut Kotoni menjadi komoditas andalan penghasil devisa negara Indonesia. Sebagian besar rumput laut Kotoni Indonesia diekspor ke Cina (67,7%), selain itu juga diekspor ke Vietnam (8,9%), Filipina (6,5%), Korea (5,1%) dan negara-negara di benua Amerika dan Eropa (FAO 2013).  	Produksi rumput laut di Indonesia dari tahun ketahun semakin meningkat. Produksi pada tahun 2010 adalah  3.915.017 ton berat basah, sedangkan pada tahun 2014 terjadi kenaikan 257% yaitu mencapai 10.076.992 ton berat basah (KKP PDSI 2015). Berdasarkan data yang dikemukakan oleh FAO (2013), Indonesia adalah produsen rumput laut penghasil karaginan terbesar di dunia. Sebanyak 60,5% rumput laut karaginofit di dunia dihasilkan dari Indonesia,  31,9% berasal dari Filipina dan sisanya 7,1% berasal dari Malaysia, Tanzania, dan Cina (FAO 2013). Jenis rumput laut karaginofit yang paling banyak dikembangkan di Indonesia adalah K. alvarezii (Kotoni), selain itu juga K. striatum (Sacol), dan Euceuma denticulatum (spinosum). Walaupun Indonesia sudah menjadi produsen rumput laut karaginofit terbesar di dunia, pemerintah Indonesia masih terus mengupayakan peningkatan produksi rumput laut Kotoni ini.  Permasalahan dalam pembibitan rumput laut Kotoni  	Peningkatan produksi rumput laut Kotoni memerlukan ketersediaan bibit secara berkesinambungan. Pada saat ini pengadaan bibit rumput laut Kotoni masih mengalami banyak kendala, diantaranya adalah iklim di laut yang tidak bisa dikendalikan. Pada waktu/musim tertentu, kondisi  perairan tidak cocok untuk pertumbuhan rumput laut sehingga semuanya mati atau tumbuh tidak optimal, sehingga pada musim tanam berikutnya ketersediaan bibit sangat sedikit atau bahkan tidak ada.  Hal ini menyebabkan penyediaan bibit secara berkesinambungan untuk peningkatan luas areal budidaya belum dapat terpenuhi.  	Umumnya pembudidaya rumput laut Kotoni di Indonesia menggunakan sebagian dari hasil panen rumput laut untuk dijadikan bibit kembali dengan cara perbanyakan vegetatif melalui stek. Perbanyakan vegetatif secara berulang terus menerus menyebabkan bibit yang dihasilkan memiliki jaringan yang  sudah tua sehingga kecepatan tumbuhnya menurun dan lebih rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu perlu dilakukan kembali regenerasi melalui perbanyakan generatif untuk mendapatkan bibit yang muda dan cepat tumbuh. Akan tetapi perbanyakan rumput laut Kotoni melalui spora sangat sulit karena spora rumput laut ini sukar diperoleh. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan dalam meningkatkan penyediaan bibit rumput laut Kotoni baik secara kuantitas maupun kualitas adalah  dilakukan perbanyakan bibit rumput laut melalui teknik kultur jaringan.  	Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya,  tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar. Selain itu, kesehatan dan mutu bibit yang dihasilkan lebih terjamin. Pada rumput laut, produksi bibit di laboratorium kultur jaringan bisa dilakukan sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim/iklim diperairan pantai yang tidak bisa dikendalikan. Oleh karena itu dengan teknik kultur jaringan, bibit rumput laut diharapkan dapat tersedia secara berkesinambungan sepanjang tahun untuk pembudidaya.  Kultur Jaringan rumput laut Kotoni di SEAMEO BIOTROP  	Penelitian kultur jaringan pada rumput laut Kotoni dengan menggunakan teknik embriogenesis somatik telah dilakukan di SEAMEO BIOTROP pada tahun 2010 hingga 2011 (Sulistiani dan Yani 2012). Teknik embriogenesis somatik pada rumput laut kotoni sangat potensial digunakan untuk perbanyakan bibit dalam skala banyak, dimana pembentukkan satu embrio akan terjadi dari satu sel kalus, sedang pada kalus berukuran diameter 0.5 cm saja bisa terdiri dari ribuan sel. Selain itu, bibit kultur jaringan yang dikembangkan dari embrio somatik, diharapkan kualitasnya sama dengan perbanyakan alami rumput laut tersebut secara generatif atau melalui carpospore. Bibit yang berasal dari embriogenesis somatik memiliki jaringan yang sangat muda seperti bibit yang berasal dari spora, sehingga pertumbuhannya lebih cepat dan lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan bibit konvensional rumput laut yang berasal dari perbanyakan vegetatif secara terus menerus.  	Tahapan embriogenesis somatik rumput laut Kotoni yang telah dilakukan di SEAMEO BIOTROP adalah (Sulistiani dan Yani 2014): (1) Pembuatan kultur aseptik, meliputi kegiatan aklimatisasi indukan rumput laut di rumah kaca dan di laboratorium, dan sterilisasi eksplan; (2) Induksi kalus, meliputi kegiatan menginduksi tumbuhnya kalus dari eksplan talus dengan menggunakan zat pengatur tumbuh; (3) Regenerasi kalus menjadi plantlet, meliputi kegiatan meregenerasikan kalus embriogenik menjadi mikropropagul, dan menumbuhkan mikropropagul menjadi plantlet yang siap diaklimatisasi.

Potensi Rumput Laut Kotoni  	Rumput Laut Kotoni (Kappaphycus alvarezii Doty) adalah salah satu  komoditas unggulan di bidang perikanan dan kelautan Indonesia karena  jenis Rumput laut ini menghasilkan karaginan (carragenan) yang benilai ekonomis tinggi. Rumput laut penghasil karaginan disebut rumput laut jenis karaginofit, yaitu meliputi Kappaphycus sp, Eucheuma sp, Chondrus sp, Hypnea sp dan Gigartina sp. Dalam dunia industri dan perdagangan, karaginan memberikan banyak manfaat antara lain dalam industri farmasi, makanan, dan kosmetik sebagai stabilator (stabilizer), bahan pengental (thickener), pembentuk gel (gelling agent), dan pengemulsi.  	Karaginan, salah satu bahan kebutuhan industri yang telah diperdagangkan di pasar internasional. Rumput laut K. alvarezii menghasilkan Kappa-carragenan dimana sebagai gelling agent lebih kuat (tebal) sehingga lebih mahal dan diunggulkan dibandingkan Iota-carragenan yang dihasilkan dari Eucheuma sp. Hal ini menjadikan rumput laut Kotoni menjadi komoditas andalan penghasil devisa negara Indonesia. Sebagian besar rumput laut Kotoni Indonesia diekspor ke Cina (67,7%), selain itu juga diekspor ke Vietnam (8,9%), Filipina (6,5%), Korea (5,1%) dan negara-negara di benua Amerika dan Eropa (FAO 2013).  	Produksi rumput laut di Indonesia dari tahun ketahun semakin meningkat. Produksi pada tahun 2010 adalah  3.915.017 ton berat basah, sedangkan pada tahun 2014 terjadi kenaikan 257% yaitu mencapai 10.076.992 ton berat basah (KKP PDSI 2015). Berdasarkan data yang dikemukakan oleh FAO (2013), Indonesia adalah produsen rumput laut penghasil karaginan terbesar di dunia. Sebanyak 60,5% rumput laut karaginofit di dunia dihasilkan dari Indonesia,  31,9% berasal dari Filipina dan sisanya 7,1% berasal dari Malaysia, Tanzania, dan Cina (FAO 2013). Jenis rumput laut karaginofit yang paling banyak dikembangkan di Indonesia adalah K. alvarezii (Kotoni), selain itu juga K. striatum (Sacol), dan Euceuma denticulatum (spinosum). Walaupun Indonesia sudah menjadi produsen rumput laut karaginofit terbesar di dunia, pemerintah Indonesia masih terus mengupayakan peningkatan produksi rumput laut Kotoni ini.  Permasalahan dalam pembibitan rumput laut Kotoni  	Peningkatan produksi rumput laut Kotoni memerlukan ketersediaan bibit secara berkesinambungan. Pada saat ini pengadaan bibit rumput laut Kotoni masih mengalami banyak kendala, diantaranya adalah iklim di laut yang tidak bisa dikendalikan. Pada waktu/musim tertentu, kondisi  perairan tidak cocok untuk pertumbuhan rumput laut sehingga semuanya mati atau tumbuh tidak optimal, sehingga pada musim tanam berikutnya ketersediaan bibit sangat sedikit atau bahkan tidak ada.  Hal ini menyebabkan penyediaan bibit secara berkesinambungan untuk peningkatan luas areal budidaya belum dapat terpenuhi.  	Umumnya pembudidaya rumput laut Kotoni di Indonesia menggunakan sebagian dari hasil panen rumput laut untuk dijadikan bibit kembali dengan cara perbanyakan vegetatif melalui stek. Perbanyakan vegetatif secara berulang terus menerus menyebabkan bibit yang dihasilkan memiliki jaringan yang  sudah tua sehingga kecepatan tumbuhnya menurun dan lebih rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu perlu dilakukan kembali regenerasi melalui perbanyakan generatif untuk mendapatkan bibit yang muda dan cepat tumbuh. Akan tetapi perbanyakan rumput laut Kotoni melalui spora sangat sulit karena spora rumput laut ini sukar diperoleh. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan dalam meningkatkan penyediaan bibit rumput laut Kotoni baik secara kuantitas maupun kualitas adalah  dilakukan perbanyakan bibit rumput laut melalui teknik kultur jaringan.  	Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya,  tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar. Selain itu, kesehatan dan mutu bibit yang dihasilkan lebih terjamin. Pada rumput laut, produksi bibit di laboratorium kultur jaringan bisa dilakukan sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim/iklim diperairan pantai yang tidak bisa dikendalikan. Oleh karena itu dengan teknik kultur jaringan, bibit rumput laut diharapkan dapat tersedia secara berkesinambungan sepanjang tahun untuk pembudidaya.  Kultur Jaringan rumput laut Kotoni di SEAMEO BIOTROP  	Penelitian kultur jaringan pada rumput laut Kotoni dengan menggunakan teknik embriogenesis somatik telah dilakukan di SEAMEO BIOTROP pada tahun 2010 hingga 2011 (Sulistiani dan Yani 2012). Teknik embriogenesis somatik pada rumput laut kotoni sangat potensial digunakan untuk perbanyakan bibit dalam skala banyak, dimana pembentukkan satu embrio akan terjadi dari satu sel kalus, sedang pada kalus berukuran diameter 0.5 cm saja bisa terdiri dari ribuan sel. Selain itu, bibit kultur jaringan yang dikembangkan dari embrio somatik, diharapkan kualitasnya sama dengan perbanyakan alami rumput laut tersebut secara generatif atau melalui carpospore. Bibit yang berasal dari embriogenesis somatik memiliki jaringan yang sangat muda seperti bibit yang berasal dari spora, sehingga pertumbuhannya lebih cepat dan lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan bibit konvensional rumput laut yang berasal dari perbanyakan vegetatif secara terus menerus.  	Tahapan embriogenesis somatik rumput laut Kotoni yang telah dilakukan di SEAMEO BIOTROP adalah (Sulistiani dan Yani 2014): (1) Pembuatan kultur aseptik, meliputi kegiatan aklimatisasi indukan rumput laut di rumah kaca dan di laboratorium, dan sterilisasi eksplan; (2) Induksi kalus, meliputi kegiatan menginduksi tumbuhnya kalus dari eksplan talus dengan menggunakan zat pengatur tumbuh; (3) Regenerasi kalus menjadi plantlet, meliputi kegiatan meregenerasikan kalus embriogenik menjadi mikropropagul, dan menumbuhkan mikropropagul menjadi plantlet yang siap diaklimatisasi.

Potensi Rumput Laut Kotoni  	Rumput Laut Kotoni (Kappaphycus alvarezii Doty) adalah salah satu  komoditas unggulan di bidang perikanan dan kelautan Indonesia karena  jenis Rumput laut ini menghasilkan karaginan (carragenan) yang benilai ekonomis tinggi. Rumput laut penghasil karaginan disebut rumput laut jenis karaginofit, yaitu meliputi Kappaphycus sp, Eucheuma sp, Chondrus sp, Hypnea sp dan Gigartina sp. Dalam dunia industri dan perdagangan, karaginan memberikan banyak manfaat antara lain dalam industri farmasi, makanan, dan kosmetik sebagai stabilator (stabilizer), bahan pengental (thickener), pembentuk gel (gelling agent), dan pengemulsi.  	Karaginan, salah satu bahan kebutuhan industri yang telah diperdagangkan di pasar internasional. Rumput laut K. alvarezii menghasilkan Kappa-carragenan dimana sebagai gelling agent lebih kuat (tebal) sehingga lebih mahal dan diunggulkan dibandingkan Iota-carragenan yang dihasilkan dari Eucheuma sp. Hal ini menjadikan rumput laut Kotoni menjadi komoditas andalan penghasil devisa negara Indonesia. Sebagian besar rumput laut Kotoni Indonesia diekspor ke Cina (67,7%), selain itu juga diekspor ke Vietnam (8,9%), Filipina (6,5%), Korea (5,1%) dan negara-negara di benua Amerika dan Eropa (FAO 2013).  	Produksi rumput laut di Indonesia dari tahun ketahun semakin meningkat. Produksi pada tahun 2010 adalah  3.915.017 ton berat basah, sedangkan pada tahun 2014 terjadi kenaikan 257% yaitu mencapai 10.076.992 ton berat basah (KKP PDSI 2015). Berdasarkan data yang dikemukakan oleh FAO (2013), Indonesia adalah produsen rumput laut penghasil karaginan terbesar di dunia. Sebanyak 60,5% rumput laut karaginofit di dunia dihasilkan dari Indonesia,  31,9% berasal dari Filipina dan sisanya 7,1% berasal dari Malaysia, Tanzania, dan Cina (FAO 2013). Jenis rumput laut karaginofit yang paling banyak dikembangkan di Indonesia adalah K. alvarezii (Kotoni), selain itu juga K. striatum (Sacol), dan Euceuma denticulatum (spinosum). Walaupun Indonesia sudah menjadi produsen rumput laut karaginofit terbesar di dunia, pemerintah Indonesia masih terus mengupayakan peningkatan produksi rumput laut Kotoni ini.  Permasalahan dalam pembibitan rumput laut Kotoni  	Peningkatan produksi rumput laut Kotoni memerlukan ketersediaan bibit secara berkesinambungan. Pada saat ini pengadaan bibit rumput laut Kotoni masih mengalami banyak kendala, diantaranya adalah iklim di laut yang tidak bisa dikendalikan. Pada waktu/musim tertentu, kondisi  perairan tidak cocok untuk pertumbuhan rumput laut sehingga semuanya mati atau tumbuh tidak optimal, sehingga pada musim tanam berikutnya ketersediaan bibit sangat sedikit atau bahkan tidak ada.  Hal ini menyebabkan penyediaan bibit secara berkesinambungan untuk peningkatan luas areal budidaya belum dapat terpenuhi.  	Umumnya pembudidaya rumput laut Kotoni di Indonesia menggunakan sebagian dari hasil panen rumput laut untuk dijadikan bibit kembali dengan cara perbanyakan vegetatif melalui stek. Perbanyakan vegetatif secara berulang terus menerus menyebabkan bibit yang dihasilkan memiliki jaringan yang  sudah tua sehingga kecepatan tumbuhnya menurun dan lebih rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu perlu dilakukan kembali regenerasi melalui perbanyakan generatif untuk mendapatkan bibit yang muda dan cepat tumbuh. Akan tetapi perbanyakan rumput laut Kotoni melalui spora sangat sulit karena spora rumput laut ini sukar diperoleh. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan dalam meningkatkan penyediaan bibit rumput laut Kotoni baik secara kuantitas maupun kualitas adalah  dilakukan perbanyakan bibit rumput laut melalui teknik kultur jaringan.  	Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya,  tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar. Selain itu, kesehatan dan mutu bibit yang dihasilkan lebih terjamin. Pada rumput laut, produksi bibit di laboratorium kultur jaringan bisa dilakukan sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim/iklim diperairan pantai yang tidak bisa dikendalikan. Oleh karena itu dengan teknik kultur jaringan, bibit rumput laut diharapkan dapat tersedia secara berkesinambungan sepanjang tahun untuk pembudidaya.  Kultur Jaringan rumput laut Kotoni di SEAMEO BIOTROP  	Penelitian kultur jaringan pada rumput laut Kotoni dengan menggunakan teknik embriogenesis somatik telah dilakukan di SEAMEO BIOTROP pada tahun 2010 hingga 2011 (Sulistiani dan Yani 2012). Teknik embriogenesis somatik pada rumput laut kotoni sangat potensial digunakan untuk perbanyakan bibit dalam skala banyak, dimana pembentukkan satu embrio akan terjadi dari satu sel kalus, sedang pada kalus berukuran diameter 0.5 cm saja bisa terdiri dari ribuan sel. Selain itu, bibit kultur jaringan yang dikembangkan dari embrio somatik, diharapkan kualitasnya sama dengan perbanyakan alami rumput laut tersebut secara generatif atau melalui carpospore. Bibit yang berasal dari embriogenesis somatik memiliki jaringan yang sangat muda seperti bibit yang berasal dari spora, sehingga pertumbuhannya lebih cepat dan lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan bibit konvensional rumput laut yang berasal dari perbanyakan vegetatif secara terus menerus.  	Tahapan embriogenesis somatik rumput laut Kotoni yang telah dilakukan di SEAMEO BIOTROP adalah (Sulistiani dan Yani 2014): (1) Pembuatan kultur aseptik, meliputi kegiatan aklimatisasi indukan rumput laut di rumah kaca dan di laboratorium, dan sterilisasi eksplan; (2) Induksi kalus, meliputi kegiatan menginduksi tumbuhnya kalus dari eksplan talus dengan menggunakan zat pengatur tumbuh; (3) Regenerasi kalus menjadi plantlet, meliputi kegiatan meregenerasikan kalus embriogenik menjadi mikropropagul, dan menumbuhkan mikropropagul menjadi plantlet yang siap diaklimatisasi.

Publikasi

Hasil-hasil penelitian kultur jaringan rumput laut Kotoni di SEAMEO BIOTROP serta hasil uji penanaman bibit kultur jaringan di beberapa perairan pantai Indonesia telah dipublikasikan pada tahun 2014 dalam buku “Kultur Jaringan Rumput Laut Kotoni (Kappaphycus alvarezii)” dengan penulis: Erina Sulistiani dan Samsul A. Yani. Bila stok masih tersedia, buku dapat diperoleh dengan mengirim surat permintaan buku tersebut dan diemailkan ke : Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Hasil-hasil penelitian kultur jaringan rumput laut Kotoni di SEAMEO BIOTROP serta hasil uji penanaman bibit kultur jaringan di beberapa perairan pantai Indonesia telah dipublikasikan pada tahun 2014 dalam buku “Kultur Jaringan Rumput Laut Kotoni (Kappaphycus alvarezii)” dengan penulis: Erina Sulistiani dan Samsul A. Yani.

Referensi

[FAO] Food and Agriculture Organization. 2013. Social and Economic Dimensions of Carrageenan Seaweed Farming. Roma (IT). Food and Agriculture Organization of the United Nations.

[KKP PDSI] Kementrian Kelautan dan Perikanan, Pusat Data, Statistik dan Informasi. 2015. Kelautan dan Perikanan dalam Angka 2015. Jakarta (ID). Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Sulistiani, E., D.T. Soelistyowati, Alimuddin, S.A. Yani. 2012. Callus induction and filaments regeneration from callus of Cottonii seaweed (Kappaphycus alvarezii Doty) collected from Natuna Islands, Riau Islands Province. BIOTROPIA 19 (2): 103-114.

Sulistiani E, Yani SA. 2014. Kultur Jaringan Rumput Laut Kotoni (Kappaphycus alvarezii). Bogor (ID). SEAMEO BIOTROP.


Informasi lebih lanjut hubungi:

Erina Sulistiani (HP 08129601934, email: Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )
Samsul A. Yani (HP 08129079245, email: Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )


SEAMEO BIOTROP
Product Development and Services Department
Jl. Raya Tajur Km. 6, Tel/Fax: (0251) 8357175, Bogor, Jawa Barat, Indonesia.

Sulistiani, E., D.T. Soelistyowati, Alimuddin, S.A. Yani. 2012. Callus induction and filaments regeneration from callus of Cottonii seaweed (Kappaphycus alvarezii Doty) collected from Natuna Islands, Riau Islands Province. BIOTROPIA 19 (2): 103-114.
 

Produk Kultur Jaringan

JATI KULTUR JARINGAN

Pohon Jati KuljarJati (Tectona grandis) merupakan tanaman keras yang mempunyai daur hidup yang sangat panjang, sehinga pemanenan kayu baru dapat dilakukan .. [Selengkapnya]


PISANG 

Pisang CavendishPisang (Musa sp.) merupakan komoditas buah tropis yang sangat popular di dunia.  Hal ini dikarenakan rasanya lezat, gizinya tinggi, dan ... [Selengkapnya]


TALAS JEPANG (SATOIMO)

SatoimoAwal keberadaan Talas Jepang di Indonesia adalah pada masa pendudukan Jepang. Talas Jepang dikenal oleh masyarakat di Toraja dengan nama ... [Selengkapnya]


BUAH TIN

black velvetBuah tin atau yang memiliki nama ilmiah Ficus carica adalah sejenis buah-buahan yang dapat dimakan dan saat ini mulai dibudidayakan di berbagai tempat lain di penjuru dunia... [Selengkapnya]


KENTANG

black velvet

Kentang (Solanum tuberosum L.) adalah tanaman dari suku Solanaceae yang memiliki umbi batang yang dapat dimakan dan disebut "kentang" pula. Di Indonesia, keberadaan kentang terbilang ... [Selengkapnya]


RUMPUT LAUT

Rumput Laut Kotoni (Kappaphycus alvarezii Doty) adalah salah satu  komoditas unggulan di bidang perikanan dan kelautan Indonesia karena  jenis Rumput laut ini menghasilkan karaginan (carragenan) yang benilai ... [Selengkapnya]




Go up